Perkembangan Kurikulum di Indonesia
PERKEMBANGAN
KURIKULUM DI INDONESIA
Adapun
perkembangan kurikulum di Indonesia dapat dibagi dalam beberapa fase, sebagai
berikut:
A.
Periode Sebelum Tahun 1945
1.
Kurikulum pada Masa VOC
Kurikulum sekolah selama masa VOC
berkaitan erat dengan gereja. Menurut Hereen XVII, badan tertinggi VOC di
negeri Belanda yang terdiri atas 17 orang anggota, gubernur di Indonesia harus menyebarluaskan agama Kristen dan mendirikan sekolah untuk tujuan itu. Menurut
peraturan sekolah 1643, tugas guru adalah memupuk rasa takut kepada Tuhan, mengajarkan
dasar agama Kristen, mengajak anak berdoa, bernyanyi, pergi ke gereja, dan mematuhi
orang tua. Walaupun tak ada kurikulum yang ditentukan biasanya sekolah menyajikan
pelajaran tentang ketekismus, agama, membaca, menulis dan menyanyi. Demikian
pula tidak ditentukan lama belajar. Peraturan hanya menentukan bahwa anak pria
lebih dari usia 16 tahun dan anak wanita lebih dari 12 tahun hendaknya jangan
dikeluarkan dari sekolah. Pembagian dalam 3 kelas untuk pertama kali dimulai
pada tahun 1778. Di kelas 3, kelas terendah, anak-anak belajar abjad, di kelas
2 membaca, menulis, dan bernyanyi dan di kelas 1, kelas tertinggi: membaca,
menulis, katekismus, bernyanyi dan berhitung.
2. Kurikulum Sebelum 1892 (Sebelum Reorganisasi)
Sebelum
1892, Sekolah rendah tidak mempunyai kurikulum yang seragam, walaupun dalam
peraturan 1871 ada petunjuk yang menentukan kegiatan sekolah. Ada 4 mata
pelajaran yang diharuskan , yakni membaca, menulis, bahasa (bahasa daerah dan
bahasa Melayu), dan berhitung. Bahasa pengantar
yang digunakan adalah bahasa Melayu. Pelajaran agama tidak di ajarkan, seperti
halnya di Belanda pada masa liberal. Statuta 1874 menyatakan pengajaran agama
dilarang di sekolah pemerintah, akan tetapi ruang kelas dapat digunakan untuk
itu di luar jam pelajaran.
3. Kurikulum Setelah 1892 ( Setelah Reorganisasi)
Kurikulum
sekolah ini, seperti ditentukan dalam peraturan 1893 terdiri atas pelajaran
membaca dan menulis dalam bahasa daerah dalam huruf daerah dan latin, membaca
dan menulis dalam bahasa Melayu, berhitung, ilmu bumi Indonesia,
ilmu alam, sejarah pulau tempat tinggal, menggambar dan mengukur tanah. Lama
pelajaran diperpanjang dari 3 menjadi 5 kelas. Sekolah dibagi dalam 5 kelas
yang terpisah sehingga sekolah beruangan satu lambat laun lenyap. Sekolah Kelas
Satu tidak menjadi popular di kalangan Priayi, karena tidak memberikan
pelajaran bahasa Belanda. Akhirnya, pada tahun 1907 bahasa Belanda dimasukkan
ke dalam program Sekolah Kelas Satu dan lama belajar diperpanjang menjadi 6
tahun. Akan tetapi, perubahan itu tetap tidak menjadikan Sekolah Kelas Satu
popular, ia tetap menjadi terminal tanpa kesempatan melanjutkan pelajaran.
Kelemahannya jelas tampak bila dibandingkan dengan ELS (Europese Lagere School)
dan HCS (Holland Chinese School) . Dirasakan adanya diskriminasi terhadap
anak Indonesia
karena anak-anak cina di HCS diberi pelajaran dalam bahasa Belanda selama 7
tahun. Barulah ketika tahun 1912 bahasa Belanda diajarkan mulai kelas 1 dan
lama belajar diperpanjang selama 7 tahun. Lambat laun Sekolah Kelas Satu
menyamai sekolah-sekolah yang tersedia bagi golongan bangsa lain, akan tetapi
masih mempunyai kelemahan karena tidak membuka kesempatan untuk melanjutkan
pelajaran.
4. Kurikulum Sekolah Kelas Dua
Disebut
Sekolah Kelas Dua karena orang-orang yang sekolah disana khusus sebagian kecil
rakyat. Sekolah ini akan mempersiapkan berbagai ragam pegawai rendah untuk
kantor pemerintah dan perusahaan swasta. Disamping itu juga untuk
mempersiapkan guru bagi Sekolah Desa. Sekolah ini mempunyai kurikulum
yang sangat sederhana dikarenakan sekolah ini pada mulanya untuk seluruh rakyat
Indonesia walupun dalam perkembangannya kemudian lebih spesifik lagi.
Program Sekolah Kelas Dua ini sama dengan program Sekolah Kelas Satu. Perlu
diketahui, Reorganisasilah yan menyebabkan dua jenis sekolah ini, Sekolah Kelas
Satu terutama bagi anak golongan atas dan Sekolah Kelas Dua untuk orang biasa.
5. Kurikulum VolkSchool
Kurikulum
ini sangat sederhana. Kurikulum ini muncul seiring dengan kebutuhan rakyat yang
pada saat itu banyak buta huruf dan tidak bisa berhitung. Akan tetapi, sekolah
ini tetap saja dirasa tidak memenuhi keinginan murid untuk melanjutkan
pelajarannya. Banyak anak-anak dari sekolah ini yang ingin dipindahkan ke
Sekolah Kelas Dua. Pada akhirnya, sekolah desa ini menjadi substruktur dari
Sekolah Kelas Dua dengan mangadakan perbaikan kurikulum Sekolah
Desa.
6. Kurikulum ELS (Europese Lagere School)
Setelah
Hindia Belanda diterima kembali dari tangan Inggris pada tahun 1816 oleh para Komisariat Jendral, maka pendidikan ditanggapi secara
lebih sungguh-sungguh. Akan tetapi kegiatan mereka hanya terfokus pada
anak-anak berdarah Belanda. Sekolah Belanda ini sejak mulanya dimaksudkan
agar sama dengan netherland, walaupun terdapat perbedaan tentang muridnya,
khususnya pada permulaannnya. Kurikulum terdiri atas pelajaran membaca,
menulis, berhitung, bahasa Belanda, sejarah, ilmu bumi dan mata pelajaran
lainnya. Sedangkan pelajaran agama ditiadakan. Pada tahun 1868 bahasa Prancis
diajarkan dan merupakan syarat untuk masuk ke sekolah Belanda.
7.
Kurikulum HCS (Holland Chinese School)
HCS
mempunyai dasar yang sama dengan ELS. Bahasa Perancis biasanya diajarkan pada
sore hari seperti halnya dengan bahasa Inggris,
yang sebenarnya tidak diberikan kepada ELS, namun diajarkan berhubung dengan
kepentinan bagi perdagangan. Kurikulum dan buku pelajarannyapun sama dengan
ELS.
8.
Kurikulum HIS (Holland Inlandse School)
Pendirian
HIS pada prinsipnya dikarenakan keinginan yang kian menguat di kalangan orang
Indonesia untuk memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan Barat. Kurikulum
HIS seperti yang tercantum dalam Statuta 1914 No. 764 meliputi semua mata
pelajaran. Lulusannyapun akhirnya bisa melanjutkan ke STOVIA (School tot
Opleiding van Indisce Artsen, Sekolah “Dokter Djawa”) dan MULO. Selain itu
mereka memasuki Sekolah Guru, Sekolah Normal, Sekolah Teknik, Sekolah Tukang,
Sekolah Pertanian, Sekolah Menteri Ukur, dan lain-lain.
9.
Kurikulum MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)
Dengan
program yang diperluas. MULO merupakan sekolah pertama yang tidak mengikuti
pola pendidikan Belanda, namun tetap berorientasi adat Barat dan tidak mencari
penyesuaian dengan keadaan Indonesia. Programnya terdiri atas empat bahasa
yakni, Belanda, Perancis, Inggris
dan Jerman.
Kursus MULO ini dibuka pada tahun 1903. Kursus ini dimaksud sebagai sekolah
rendah .
10.
Kurikulum HBS (Hogere Burger School)
Kurikulum
HBS di Indonesia tak sedikitpun berbeda dengan yang ada di negeri Belanda.
Kurikulum ini dirasa mantap tanpa mengalami banyak perubahan. Apa yang
diajarkan tampaknya universal. Bahannyapun dapat berubah disesuaikan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, namun mata pelajarannya tetap sama. Siswa HBS
harus mempunyai bakat yang tinggi dalam IPA , matematika ataupun bahasa. Dan
untuk gurunyapun, hanya mereka yang memperoleh gelar Ph.D (Doktor) atau diploma
yang boleh mengajar. Dengan demikian ini dapat mencapai taraf yang sama dengan
sekolah yang terdapat di Netherland.
1. Kurikulum 1947, Rentjana (Rencana) Pelajaran 1947
Kurikulum
pertama pada masa kemerdekaan yaitu Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu
penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang
istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat
politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan
kurikulum Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk
kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Situasi perpolitikan
dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru diterapkan
pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut
kurikulum 1950. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat
dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta
garis-garis besar pengajarannya. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan
pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan
pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian
terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah
Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah.
Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu
Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara,
Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan,
Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama
diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas. Garis-garis
besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara
murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara
bercakap-cakap, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses
kejadian sehari-hari, bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana
(pompa, timbangan, manfaat besi berani), dan menyelidiki berbagai peristiwa
sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan
melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik. Pada
perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang
dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952.
Rencana Pelajaran 1947
baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah
perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal
pokok:
a) Daftar
mata pelajaran dan jam pengajarannya
b) Garis-garis besar pengajaran (GBP)
Rencana Pelajaran 1947
mengurangi pendidikan pikiran dalam arti kognitif, namun yang diutamakan
pendidikan watak atau perilaku (value , attitude), meliputi :
a)
Kesadaran bernegara dan bermasyarakat
b) Materi
pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari
c)
Perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
2.
Kurikulum 1952, Rentjana (Rencana) Pelajaran Terurai 1952
Setelah
Rencana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan.
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama
Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem
pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum
1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang
dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannya menunjukkan
secara jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Fokusnya pada
pengembangan Pancawardhana, yaitu :
a) Daya
cipta,
b) Rasa,
c) Karsa,
d) Karya,
e) Moral.
Mata
pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi.
1) Moral
2)
Kecerdasan
3)
Emosional/artistik
4)
Keprigelan (keterampilan)
5)
Jasmaniah.
3.
Kurikulum 1964, Rentjana (Rencana) Pendidikan 1964
Usai tahun
1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum
di Indonesia. Kali ini diberi nama Rencana
Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri
dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat
mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program
Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik,
keprigelan,dan jasmani. Ada yang menyebut Pancawardhana berfokus pada
pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Cara belajar dijalankan
dengan metode disebut gotong royong terpimpin. Selain itu pemerintah menerapkan
hari sabtu sebagai hari krida. Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa diberi
kebebasan berlatih kegitan di bidang kebudayaan, kesenian, olah raga, dan
permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk
manusia pacasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada
ketetapan MPRS No II tanun 1960.
Penyelenggaraan pendidikan dengan
kurikulum 1964 mengubah penilaian di rapor bagi kelas I dan II yang asalnya
berupa skor 10 – 100 menjadi huruf A, B, C, dan D. Sedangkan bagi kelas II
hingga VI tetap menggunakan skor 10 – 100. Kurikulum 1964 bersifat separate
subject curriculum, yang memisahkan mata pelajaran berdasarkan lima kelompok
bidang studi (Pancawardhana). Mata Pelajaran yang ada pada Kurikulum 1968
adalah:
I.Pengembangan Moral
1. Pendidikan kemasyarakatan
1. Pendidikan kemasyarakatan
2. Pendidikan
agama/budi pekerti
II Perkembangan kecerdasan
II Perkembangan kecerdasan
1. Bahasa Daerah
2. Bahasa Indonesia
3. Berhitung
4. Pengetahuan Alamiah
2. Bahasa Indonesia
3. Berhitung
4. Pengetahuan Alamiah
III Pengembangan emosional atau Artistik
1. Pendidikan kesenian
IV Pengembangan keprigelan
Pendidikan keprigelan
V Pengembangan jasmani
Pendidikan jasmani/Kesehatan
1. Pendidikan kesenian
IV Pengembangan keprigelan
Pendidikan keprigelan
V Pengembangan jasmani
Pendidikan jasmani/Kesehatan
C.
Periode Tahun 1968 Sampai Tahun 1999 (Masa Pemerintahan Orde Baru)
1. Kurikulum 1968
Kelahiran
Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan
sebagai produk Orde Lama. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan
bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati,
kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral,
budi pekerti, dan keyakinan beragama. Dalam kurikulum ini tampak dilakukannya
perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan
jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968
merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan
organisasi materi pelajaran:kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar,
dan kecakapan khusus. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi 9 pokok. Djauzak
menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. "Hanya memuat mata
pelajaran pokok saja," . Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak
mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada
materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan,
serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
2. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan,
agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Menurut Drs Mudjito; Ak; Msi
(Direktur Pemb. TK
dan SD
Depdiknas), yang melatar belakangi lahirnya kurikulum ini adalah pengaruh
konsep di bidang manejemen, yaitu MBO ( Management by Objective) yang terkenal
saat itu. Metode,
materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu
rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci
menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus ( TIK ),
materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.
Kurikulum 1975 banyak mendapat kritikkan karena guru dibuat sibuk menulis
rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran
Dapat dirincikan cirri-ciri pendidikan
pada kurikulum 1975 yaitu :
a. Menganut
pendekatan integratif
b.
Jumlah mata pelajaran SMP dan SMA yaitu 11, dan SD yaitu 9
c. Adanya penjurusan di SMA yaitu IPA, IPS, dan
Bahasa
d. Menggunakan
sistem semester
e. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas
dalam hal daya dan waktu
f. Adanya evaluasi pembelajaran
g. Menggunakan pendekatan proses
h. Memperhatikan materi
i. Sistem
Penyajian dengan Pendekatan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
3. Kurikulum 1984
Kurikulum
1975 yang disempurnakan menjadi Kurikulum 1984 mengusung proccess skill
approach. Meski mengutamakan pendekatan
proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut Kurikulum
1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari
mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini
disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). CBSA
merupakan suatu upaya dalam pembaharuan pendidikan dan pembelajaran
pada saat itu. Pendekatannya
menitikberatkan pada keaktifan siswa yang merupakan inti dari kegiatan
belajar.
Dalam
CBSA kegiatan belajarnya diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti
mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis
laporan, memecahkan masalah, membentuk gagasan, menyusun rencana dan
sebagainya. Adapun kegiatan yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:
- Menyiapkan lembar kerja
- Menyusun tugas bersama siswa
- Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan disusun
- Memberikan bantuan dan pelayanan apabila siswa mendapat kesulitan
- Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan
- Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan umum
- Memberikan bantuan dan pelayanan khusus kepada siswa yang lamban
- Menyalurkan bakat dan minat siswa
- Mengamati setiap aktivitas siswa.
Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum
1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas
periode 1980-1986. Konsep CBSA yang baik secara teoritis dan bagus hasilnya di
sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan
secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang
terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, banyak
terdapat tempelan gambar, dan yang menyolok yaitu guru tak lagi mengajar model
berceramah. Akhirnya penolakan CBSA bermunculan.
Ciri-ciri kurikulum 1984 yaitu :
a. Menggunakan pendekatan CBSA
b.Pendekatan
keterampilan proses
c. System
semester
d.Program pembelajaran di SMA di bagi menjadi 2
yaitu A dan B; A terdiri dari A1 , A2, A3, dan A4
e. Ada 16 pelajaran inti
4. Kurikulum 1994 dan
Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum
1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya,
terutama kurikulum 1975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses
belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban
belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal.
Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya
bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai
kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu
masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum
1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada
1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada
menambal sejumlah materi.
Cirri-ciri
kurikulum 1994 yaitu :
a. System caturwulan
b.
Adanya muatan lokal
c. Perubahan penamaan SMP dan SMA menjadi SLTP
dan SLTA
d. Adanya tujuan pembelajaran umum dan
khusus
D. Periode Era Reformasi
1. Kurikulum 2004
Pada
era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan
hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar,
dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah
(Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitikberatkan pada pengembangan kemampuan
melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga
hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat
kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman,
kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu
dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.
Adapun
karakteristik KBK menurut Depdiknas (2002) adalah sebagai berikut:
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupu klasikal.
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupu klasikal.
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
c.
Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang
bervariasi.
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
edukatif.
e. Setiap pelajaran
diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya,
kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian.
Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila
target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada
praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan
kompetensi siswa.
Meski
baru diujicobakan, di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar
di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun
tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.
Beberapa
keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994 adalah.
a. KBK yang dikedepankan Penguasaan
materi hasil dan kompetenasi. Paradigma pembelajaran versi UNESCO: learning to know,learning to do, learning to
live together, dan learning to be
b. Silabus ditentukan secara
seragam, peran serta guru dan siswa dalam proses pembelajaran, silabus menjadi
kewenagan guru
c. Jumlah jam pelajaran 40 jam
per minggu 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum bisa dikurangi
d. Metode pembelajaran
Keterampilan proses dengan melahirkan metode pembelajaran PAKEM dan CTL
e. Sistem
penilaian Lebih menitik beratkan pada aspek kognitif, penilaian memadukan
keseimbangan kognitif, psikomotorik, dan afektif, dengan penekanan penilaian
berbasis kelas
f. KBK memiliki empat komponen,
yaitu kurikulum dan hasil belajar (KHB), penilaian berbasis kelas (PBK),
kegiatan belajar mengajar (KBM), dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah
(PKBS). KHB berisi tentang perencaan pengembangan kompetensi siswa yang perlu
dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun. PBK adalah melakukan penilaian secara
seimbang di tiga ranah, dengan menggunakan instrumen tes dan non tes, yang
berupa portofolio, produk, kinerja, dan pencil test. KBM diarahkan pada
kegiatan aktif siswa dala membangun makna atau pemahaman, guru tidak bertindak
sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai motivator yang dapat
menciptakan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar secara penuh dan
optimal.
2. Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) 2006
Awal
2006 uji coba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses
pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi
tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol
adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai
dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini
disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar
kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap
satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi
pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian
merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) di bawah koordinasi dan
supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.
Penilaian menekankan pada proses dan
hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. KTSP ini
merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.
Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan
dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi,
(2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan
tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan,
standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk
mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan,
yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan
pendidikan.
Secara substansial, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:
Secara substansial, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:
a. Menekankan pada
ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
c. Penyampaian dalam
pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
edukatif.
Penilaian menekankan
pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu
kompetensi. Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan KBK tahun 2004
dengan KBK tahun 2006 (versi KTSP), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh dalam
menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang
ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum, beban
belajar, kalender pendidikan hingga pengembangan silabusnya.
Sumber
:
Komentar
Posting Komentar