Remaja dan Penyesuaiannya
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyesuaian diri merupakan suatu hal
yang sangat diperlukan ketika seseorang atau individu masuk ke dalam lingkungan
baru. Begitu pula dalam pembelajaran, penyesuaian diri sangat diperlukan
khususnya bagi remaja karena tanpa melakukan penyesuaian diri remaja tersebut
akan sukar dalam menempatkan diri dan menerima pelajaran dengan baik.,
Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian
diri yang baik jika mampu melakukan respons-respons yang matang, efisien, memuaskan,
dan sehat. Efisien artinya mampu melakukan respons dengan mengeluarkan tenaga
dan waktu sehemat mungkin. Sehat artinya respons-respons yang dilakukannya
sesuai dengan hakikat individu, lembaga, atau kelompok antarindividu, dan
hubungan antar individu dengan penciptanya. Namun, dalam melakukan
penyesuaiannya, remaja akan menemukan permasalahan-permasalahan yang ada. Permasalahan
dalam penyesuaian diri remaja banyak disebabkan oleh beberapa faktor baik
hubungannya dengan keluarga maupun dengan permasalahan di sekolah yang akan
berdampak pada pendidikannya.
Pada makalah ini akan dibahas
penyesuaian diri remaja baik dengan permasalahannya maupun faktor-faktor yang
mempengaruhi karakteristik penyesuaian diri peserta didik. Oleh karena itu,
dengan disusunnya makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui bagaimana
peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungannnya.
B. Permasalahan
Ada beberapa permasalahan yang akan di
bahas dalam makalah ini yaitu :
1. Apa
pengertian dari penyesuaian diri?
2. Bagaimanakah
penyesuaian diri yang baik?
3. Bagaimanakah
proses penyesuaian diri tersebut?
4. Seperti
apa karakteristik penyesuaian diri pada remaja?
5. Faktor
apa saja yang mempengaruhi proses penyesuaian remaja?
6. Faktor
apa saja yang mempengaruhi dinamika penyesuaian diri remaja?
7. Apa
saja permasalahan – permasalahan penyesuaian diri remaja?
8. Apa
implikasi proses penyesuaian diri remaja bagi pendidikan?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi
Penulis
Memperluas pengetahuan
penulis dengan mengkaji materi mengenai Penyesuaian
Diri dan Permasalahannya khususnya pada remaja.
2. Bagi
Pembaca
Memberikan
informasi bagi pembaca bagaimana peserta didik melakukan penyesuaian diri.
BAB
II
PENYESUAIAN
DIRI DAN PERMASALAHANNYA
A. Pengertian
Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri dikenal dengan istilah
adjustment atau personal adjustment. Mendiskusikan tentang pengertian
penyesuaian diri, menurut Schneiders (1984) dapat ditinjau dari tiga sudut
pandang, yakni :
1. Penyesuaian
diri sebagai adaptasi (adaptation)
2. Penyesuaian
diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
3. Penyesuaian
diri sebagai usaha penguasaan (mastery)
Tiga
sudut pandang tersebut sama-sama memaknai penyesuaian diri, tetapi sesuai
dengan istilah dan konsep masing-masing, maka memiliki penekanan yang
berbeda-beda.
1. Penyesuaian
Diri sebagai Adaptasi (Adaptation)
Pada adaptasi ini pada umumnya lebih
mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis,atau biologis.
Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus
beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut. Dalam hal ini,
penyesuaian cenderung diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik
(self-maintenance atau survival). Oleh karena itu, jika penyesuaian diri hanya
diartikan sama dengan usaha mempertahankan diri maka hanya selaras dengan
keadaan fisik saja, bukan penyesuaian dalam arti psikologis. Akibatnya, adanya
kompleksitas kepribadian individu serta adanya hubungan kepribadian individu dengan
lingkungan menjadi terabaikan. Padahal, dalam penyesuaian diri sesungguhnya tidak
sekedar penyesuaian fisik, melainkan yang lebih kompleks dan lebih penting lagi
adalah adanya keunikan dan keberbedaan kepribadian individu dalam hubungannya dengan
lingkungan.
2. Penyesuaian
diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
Ada juga penyesuaian diri diartikan
sebagai penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Sugiyarta (2002) menerangkan bahwa konformitas
merupakan hasil interaksi sosial dan proses sosial dalam kehidupan manusia
bermasyarakat akan memunculkan perilaku-perilaku kesepakatan (conformitas)
sebagai bentuk aturan bermain bersama. Penyesuaian-penyesuaian perilaku yang
disepakati bersama sebagai pedoman dalam kehidupan. Hal ini menyangkut perilaku
kepatuhan. Pemaknaan penyesuaian diri seperti inipun terlalu banyak
membawa akibat lain. Dengan memaknai penyesuain diri sebagai usaha konformitas,
menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk
harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku baik secara moral,
sosial, maupun emosional. Dalam sudut pandang ini, individu selalu diarahkan
kepada tuntutan konformitas dan terancam akan tertolak dirinya manakala
perilakunya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Keragaman pada
individu menyebabkan penyesuaian diri tidak
dapat dimaknai sebagai usaha konformitas. Misalnya, pola perilaku pada
anak-anak berbakat atau anak-anak genius ada yang tidak berlaku atau tidak
dapat diterima oleh anak-anak berkemampuan biasa. Namun demikian, tidak dapat
dikatakan bahwa mereka tidak mampu menyesuaikan diri.
Norma-norma sosial dan budaya
kadang-kadang terlalu kaku dan tidak masuk akal untuk dikenakan pada anak-anak
yang memiliki keunggulan tingkat intelegensi atau anak-anak berbakat. Selain
itu, norma yang berlaku pada suatu budaya tertentu tidak sama dengan norma pada
budaya lainnya sehingga tidak mungkin merumuskan serangkaian prinsip-prinsip
penyesuaian diri berdasarkan budaya yang dapat diterima secara universal.
Dengan demikian,
konsep penyesuaian diri sesungguhnya bersifat dinamis dan
tidak dapat disusun berdasarkan konformitas sosial.
3. Penyesuaian
diri sebagai usaha penguasaan (mastery)
Sudut pandang
berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimakanai sebagai usaha penguasaan (mastery) yaitu
kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam cara-cara tertentu
sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan dan frustasi tidak terjadi. Dengan
kata lain, penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam
mengembangkan diri sehingga dorongan, emosi, dan kebiasaan menjadi terkendali
dan terarah.
Hal itu juga berarti penguasaan
dalam memiliki kekuatan-kekuatan terhadap lingkungan, yaitu kemampuan
menyesuaikan diri dengan realitas berdasarkan cara-cara yang baik, akurat,
sehat, dan mampu bekerja sama dengan orang lain secara efektif dan efisien,
serta mampu memanipulasi faktor-faktor lingkungan sehingga penyesuaian diri dapat berlangsung dengan baik.
Namun demikian,
pemaknaan penyesuaian
diri sebagai
penguasaan(mastery) mengandung
kelemahan, yaitu menyamaratakan semua individu. Padahal, kapasitas individu
antara satu orang dengan yang lain tidak sama. Ada keterbatasanketerbatasan
tertentu yang dihadapi oleh individu.
Oleh sebab itu,
perlu dirumuskan prinsip-prinsip penting mengenai hakikat penyesuaian diri,
yaitu sebagai berikut:
1) Setiap individu memiliki kualitas
penyesuaian diri yang berbeda.
2)Penyesuaian diri sebagian besar
ditentukan oleh kapasitas internal atau kecenderungan yang telah dicapainya.
3)Penyesuaian diri juga ditentukan
oleh faktor internal dalam hubungannya dengan tuntutan lingkungan individu yang
bersangkutan.
Dengan demikian,
semakin tampak bahwa penyesuaian diri dilihat dari pandangan psikologis pun
memiliki makna yang beragam. Hanya sedikit saja kualitas penyesuaian diri yang
dapat diidentifikasi. Selain itu, kesulitan lain yang muncul adalah bahwa
penyesuaian diri tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan semata-mata
hanya menunjuk kepada cara bereaksi terhadap tuntutan internal atau situasi
eksternal. Hanya saja, reaksi yang dipandang memuaskan, efektif, dan efisien
seringkali diartikan sebagai penyesuaian diri yang baik. Sebaliknya, reaksi
yang tidak memuaskan, tidak efektif, dan tidak efisien seringkali diartikan
sebagai penyesuaian diri yang kurang baik, buruk, atau dikenal dengan istilah
“malasuai” (maladjustment).
Berdasarkan tiga
sudut pandang tentang makna penyesuaian
diri akhirnya penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses
yang mencakup respons-respons mental dan behavioral yang diperjuangkan individu
agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan,
frustrasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara
tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan
tempat individu berada.
B. Penyesuaian Diri
yang Baik
Seseorang dikatakan memiliki kemampuan
penyesuaian diri yang baik jika mampu melakukan respons-respons yang matang,
efisien, memuaskan, dan sehat. Dikatakan efisien artinya mampu melakukan
respons dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Dikatakan sehat
artinya respon-respon yang dilakukannya sesuai dengan hakikat individu,
lembaga, atau kelompok antarindividu, dan hubungan antar individu dengan
penciptanya. Bahkan sifat sehat ini adalah gambaran karakteristik yang paling
menonjol untuk melihat atau menentukan bahwa suatu penyesuaian diri itu dikatakan
baik.
Dengan demikian, orang yang dipandang
mempunyai penyesuaian diri yang baik adalah individu yang telah belajar
bereaksi terhadap dirinya dan lingkungannya dengan cara-cara yang matang ,
efisien, memuaskan dan sehat. Orang tersebut mampu menciptakan dan mengisi
hubungan antar pribadi dan kebahagiaan timbal balik yang mengandung realisasi
dan perkembangan kepribadian secara terus-menerus.
C. Proses Penyesuaian
Diri
Proses
penyesuaian diri menurut Schneiders(1984) ada 3 unsur, yaitu :
1. Motivasi
Faktor motivasi dapat
dikatakan sebagai kunci untuk memahami proses penyesuaian diri.
Motivasi sama halnya dengan kebutuhan, perasaan dan emosi
merupakan kekuatan internal yang menyebabkan keteganggan dan ketidakseimbangan
dalam organisme. Keteganggan dan ketidakseimbangan dalam merupakan kondisi yang
tidak menyenangkan karena sesungguhnya kebebasan dari keteganggan dan keseimbangan
dari kekuatan-kekuatan internal lebih wajar dalam organisme apabila
dibandingkan dengan kedua kondisi tersebut.
Keteganggan dan
ketidakseimbangan memberikan pengaruh kepada kekacauan perasaan patologis dan
emosi yang berlebihan atau kegagalan mengenai pemuasan kebutuhan secara sehat
karena mengalami frustasi dan konflik. Respon penyesuaian diri, baik atau buruk
secara sederhana dapat dipandang sebagai suatu upaya organisme untuk mereduksi
atau menjauhi keteganggan dan untuk memelihara keseimbangan yang lebih wajar.
Kualitas respon apakah itu sehat, efisien, merusak atau patologis ditentukan
terutama oleh kualitas motivasi, selain juga hubungan individu dengan
lingkungan.
2. Sikap
terhadap Realitas
Berbagai aspek
penyesuaian diri ditentukan oleh sikap dan cara individu bereaksi terhadap
manusia di sekitarnya, benda-benda dan hubungan-hubungan yang membentuk
realitas. Secara umum dapat dikatakan bahwa sikap yang sehat terhadap realitas
dan kontak yang baik terhadap realitas itu sangat diperlukan bagi proses
penyesuaian diri yang sehat. Beberapa perilaku seperti sikap antisosial, kurang
berminat terhadap hiburan, sikap bermusuhan, kenakalan, dan semaunya sendiri,
semuannya itu sangat menganggu hubungan antara penyesuaian diri dengan
realitas. Berbagai tuntunan realitas, adanya pembatasan , aturan dan norma-norma
menuntut individu untuk terus belajar menghadapi dan mengatur suatu proses
kearah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal yang dimanivestasikan
dalam bentuk sikap dan tuntutan eksternal dan realitas. Jika individu tidak
tahan dengan tuntutan-tuntutan itu akan muncul situasi konflik, tekanan dan
frustasi. Dalam situasi seperti ini, organisme didorong untuk mencari perbedaan
perilaku yang memungkinkan untuk membebaskan diri dari ketegangan.
3. Pola
Dasar Penyesuaian Diri
Dalam penyesuaian diri sehari-hari terdapat suatu pola dasar penyesuain
diri misalnya, seorang anak membutuhkan kasih sayang dari orang tuannya yang
selalu sibuk. Dalam situsi itu anak akan frustasi dan berusaha menemukan
pemecahan yang berguna mengurangi ketegangan antara kebutuhan akan kasih sayang
dengan frustasi yang dialami. Boleh jadi suatu saat upaya yang dilakukan itu mengalami
hambatan. Akhirnya ia akan beralih kepada kegiatan lain untuk mendapatkan kasih
sayang yang dibutuhkannya misalnya, dengan menghisap-hisap ibu jarinya sendiri.
Sesuai dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip penyesuaian diri
yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, maka proses
penyesuaian diri menurut Sunarto (1998) dapat ditunjukan sebagai berikut :
a) Mula-mula
individu, disatu sisi merupakan dorongan keinginan untuk memperoleh makna dan
eksistensi dalam kehidupannya dan disisi lain mendapat peluang atau tuntutan
dari luar dirinya sendiri.
b) Kemampuan
menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya sendiri secara
objektif sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan rasional dan perasaan.
c) Kemampuan
bertindak sesuai dengan potensi kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan
objektif di luar dirinya.
d) Kemampuan
bertindak secara dinamis, luwes dan tidak kaku sehingga menimbulkan rasa aman
tidak dihantui oleh kecemasan atau ketakutan.
e) Dapat bertindak
sesuai dengan potensi-potensi positif yang layak dikembangkan sehingga berhak
menerima dan diterima lingkungan tidak disingkirkan oleh lingkungan maupun
menentang dinamika lingkungan.
f) Rasa hormat
sesama manusia dan mampu bertindak toleran, selalu menunjukan prilaku hormat
sesuai dengan harkat dan martabat manusia, serta dapat mengerti dan menerima
keadaan orang lain meskipun sebenarnya kurang serius dengan keadaan dirinya.
g) Kesanggupan
respon frustasi, konflik dan stres secara wajar, sehat dan profesional, dapat
mengontrol dan mengendalikannya sehingga dapat memperoleh manfaat tanpa harus
menerima kesedihan yang mendalam.
h) Kesanggupan
bertindak secara terbuka dan sanggup menerima kritik dan tindakannya dapat
bersifat murni sehingga sanggup memperbaiki tindakan–tindakan yang sudah tidak
sesuai lagi.
i) Dapat bertindak dengan norma yang dianut oleh lingkungannya serta selaras
dengan hak dan kewajibannya.
j) Secara positif ditandai oleh kepercayaan terhadap diri sendiri, orang
lain, dan segala sesuatu di luar dirinya sehingga tidak pernah merasa tersisih
dan kesepian
D.
Karakteristik Penyesuaian Diri Remaja
Adapun karakteristik penyesuaian
diri remaja adalah sebagai berikut.
1. Penyesuaian
diri remaja terhadap peran dan identitasnya
Pesatnya perkembangan
fisik dan psikis sering kali menyebabkan remaja krisis peran dan identitas.
Sesungguhnya remaja senantiasa berjuang agar dapat memainkan perannya agar sesuai
dengan perkembangan masa peralihannya dari masa anak-anak menjadi masa dewasa.
Tujunanya adalah memperoleh identitas diri yang semakin jelas yang dapat
dimengerti dan diterima oleh lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekolah,
maupun masyarakat. Dalam konteks ini, penyesuaian diri remaja secara khas
berupaya untuk berperan sebagai subjek yang kepribadiannya memang berbeda
dengan anak-anak ataupun orang dewasa.
2. Penyesuaian
Diri Remaja Terhadap Pendidikan
Krisis identitas atau
masa topan dan badai pada diri remaja seringkali menimbulkan kendala dalam
penyesuaian diri terhadap kegiatan belajarnya. Pada umumnya, remaja sebenarnya
mengetahui bahwa untuk menjadi orang yang sukses harus rajin belajar .namun karena
dipengaruhi oleh pencarian identitas diri yang kuat menyebabkan mereka
seringkali lebih senang mencari kegiatan-kegiatan selain belajar tetapi
menyenangkan bersama-sama dengan kelompoknya. Akibatnya yang sering muncul
dipermukan adalah seringkali ditemui remaja yang malas dan tidak disiplin dalam
belajar. Tidak jarang remaja ingin sukses dalam menempuh pendidikannya, tetapi
dengan cara yang mudah dan tidak perlu belajar susah payah. Jadi dalam konteks
ini pada dasarnya penyesuaian diri remaja secara khas berjuang ingin meraih
sukses dalam studi, tetapi dengan cara-cara yang menimbulkan perasaan bebas dan
senang, terhindar dari tekanan, dan konflik, atau bahkan frustasi.
3. Penyesuaian
diri remaja Terhadap Kehidupan Seks
Secara fisik, remaja
telah mengalami kematangan pertumbuhan fungsi seksual sehingga perkembangan
dorongan seksual juga semakin kuat. Artinya remaja perlu menyesuaikan
penyaluran kebutuhan seksualnya dalam batas-batas penerimaan lingkungan
sosialnya sehingga terbebas dari kecemasan psikoseksual, tetapi juga tidak melangar
nilai-nilai moral masyarakat dan agama. Jadi secara khas penyesuaian diri
remaja dalam konteks ini adalah mereka ingin memahami kondisi seksual dirinya
dan lawan jenisnya serta mampu bertindak untuk menyalurkan dorongan seksualnya
yang dapat dimengerti dan dibenarkan oleh norma sosial dan agama.
4. Penyesuaian
Diri Remaja Terhadap Norma Sosial
Dalam kehidupan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, tentunya
memiliki ukuran-ukuran dasar yang dijunjung tinggi mengenai apa yang dikatakan
baik atau buruk, benar atau salah, yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dalam
bentuk norma-norma, hukum. Nilai-nilai moral, sopan santun maupun adat
istiadat. Berbagai bentuk aturan pada sekelompok masyarakat tertentu belum
tentu dapat diterima oleh sekelompok masyarakat yang lain. Dalam konteks ini penyesuaian
diri remaja terhadap norma sosial mengarah pada dua dimensi. Pertama, remaja
ini diakui keberadaanya dalam masyarakat luas, yang berarti remaja harus mampu
menginternalisasikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Kedua, remaja
ingin bebas menciptakan aturan-aturan sendiri yang lebih sesuai untuk
kelompoknya, tetapi menuntut agar dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat
dewasa.
5. Penyesuaian
diri Remaja Terhadap Penggunaan Waktu Luang
Waktu luang remaja
merupakan kesempatan untuk memenuhi dorongan bertindak bebas. Namun, disisi
lain remaja dituntut untuk mengunakan waktu luang untuk melakukan
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Jadi
dalam konteks ini, upaya penyesuaian diri remaja adalah melakukan penyesuaian
antara dorongan kebebasannya serta inisiatif dan kreativitasnya dengan
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Dengan demikian penggunaan waktu luang akan
menunjang pengembangan diri dan manfaat sosial.
6. Terhadap
Penggunaan Uang
Dalam kehidupannya, remaja juga berupaya
untuk memenuhi dorongan sosial lain yang memerlukan dukungan uang. Remaja
sesungguhnya belum sepenuhnya bisa mandiri, sehingga dalam masalah uang ini
biasanya memperoleh jatah dari orang tua sesuai dengan kemampuan keluarganya.
Rangsangan, tawaran, tantangan, inisiatif, kreativitas, petualangan, dan
kesempatan-kesempatan yang ada pada remaja sering kali mengakibatkan melonjaknya
penggunaan uang pada remaja sehingga mengakibatkan jatah yang diterima dari
orang tuanya seringkali menjadi tidak cukup. Oleh sebab itu, dalam konteks ini
perjuangan penyesuaian diri remaja adalah berusaha untuk mampu bertindak secara
proposional, melakukan penyesuian antara kelayakan pemenuhan kebutuhannya
dengan kondisi ekonomi orang tuanya.
7. Terhadap
Kecemasan, Konflik, dan Frustasi
Karena dinamika
perkembangan yang sangat dinamis, remaja sering kali dihadapkan pada kecemasan,
konflik, dan frustasi tersebut biasannya melalui suatu mekanisme yang oleh
Sigmund Frued (Coray, 1989) disebut dengan mekanisme pertahanan diri (defence
mechanism) seperti kompetensi, rasionalisasi, proyeksi, sublimasi,
identifikasi, regresi dan fiksasi. Cara-cara yang ditempuh tersebut ada yang
cenderung negatif atau kurang sehat dan ada pula yang relatif positif, misalnya
sublimasi. Dalam batasan-batasan kewajaran dan situasi tertentu untuk sementara
cara-cara tersebut memang masih memberikan manfaat dalam upaya penyesuaian diri
remaja. Namun, jika cara-cara tersebut sering kali ditempuh dan menjadi
kebiasaan, hal itu akan menjadi tidak sehat.
E. Faktor-Faktor yang
Memengaruhi Proses Penyesuaian Remaja
Menurut Schneiders
(1984) setidaknya ada lima faktor yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian
diri remaja adalah sebagai berikut :
1. Kondisi fisik
Seringkali kondisi
fisik berpengaruh kuat terhadap proses penyesuaian diri remaja. Aspek-aspek yang
berkaitan dengan kondisi fisik yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri remaja
adalah sebagai berikut :
a. Hereditas dan kondisi fisik
Dalam mengidentifikasi
pengaruh hereditas terhadap penyesuaian diri, lebih digunakan pendekatan fisik
karena hereditas dipandang lebih dekat dan tak terpisahkan dari mekanisme
fisik. Dari sini berkembang prinsip umum bahwa semakin dekat kapasitas pribadi,
sifat atau kecenderungan berkaiatan dengan konstitusi fisik maka akan semakin
besar pengaruhnya terhadap penyesuaian diri bahkan dalam hal tertentu,
kecenderungan kearah malasuai (maladjusment) diturunkan secara genetis khususnya
melalui media temperamen. Temperamen merupakan komponen utama karena dari temperamen
itu muncul karakteristik yang paling dasar dari kepribadian, khususnya dalam
memandang hubungan emosi dengan penyesuaian diri.
b.
Sistem Utama Tubuh
Termasuk ke dalam
sistem utama tubuh yang memiliki pengaruh terhadap penyesuaian diri adalah
sistem syaraf, kelenjar dan otot. Sistem syaraf yang berkembang dengan normal
dan sehat merupakan syarat mutlak bagi fungsi-fungsi psikologis agar dapat
berfungsi secara maksimal yang akhirnya
berpengaruh secara baik pula kepada penyesuaian diri. Dengan kata lain, fungsi
yang memadai dari sistem syaraf merupakan kondisi umum yang diperlukan bagi penyesuaian
diri yang baik. Sebaliknya penyimpangan di dalam sistem syaraf akan berpengaruh
terhadap kondisi mental yang penyesuaian dirinya kurang baik.
c.
Kesehatan Fisik
Penyesuaian diri
seseorang akan lebih mudah dilakukan dan dipelihara dalam kondisi fisik yang
sehat daripada yang tidak sehat. Kondisi fisik yang sehat dapat menimbulkan
penerimaan diri, kepercayaan diri, harga diri dan sejenisnya yang akan menjadi
kondisi yang sangat menguntungkan bagi proses penyesuian diri. Sebaliknya kondisi
fisik yang tidak sehat dapat mengakibatkan perasaan rendah diri, kurang percaya
diri, atau bahkan menyalahkan diri sehingga akan berpengaruh kurang baik bagi
proses penyesuaian diri.
2. Kepribadian
Unsur –unsur kepribadian yang penting pengaruhinya terhadap penyesuaian
diri adalah sebagai berikut :
· Kemauan dan kemampuan untuk berubah
(modifiability)
Kemauan dan kemampuan untuk berubah merupakan karakteristik
kepribadian yang pengaruhnya sangat menonjol terhadap proses penyesuaian diri.
Sebagai suatu proses yang dinamis dan berkelanjutan, penyesuaian diri
membutuhkan kecenderungan untuk berubah dalam bentuk kemauan, prilaku, sikap,
dan karakteristik sejenis lainnya. Oleh sebab itu semakin kaku dan tidak ada
kemauan serta kemampuan untuk merespon lingkungan, semakin besar kemungkinanya
untuk mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri.
· Pengaturan diri
(self regulation)
Pengaturan diri sama pentingnya dengan penyesuaian diri dan
pemeliharaan stabilitas mental, kemampuan untuk mengatur diri, dan mengarahkan
diri. Kemapuan mengatur diri dapat mencegah individu dari keadaan malasuai dan
penyimpangan kepribadian. Kemampuan pengatauran diri dapat ,mengarahkan kepribadian
normal mencapai pengendalian diri dan realisasi diri.
· Realisasi diri
(self relization)
Telah dikatakan bahwa pengaturan kemampuan diri mengimplikasiakan
potensi dan kemampuan kearah realisasi diri. Proses penyesuaian diri dan pencapaian
hasilnya secara bertahap sangat erat kaitanya dengan perkembangan kepribadian.
Jika perkembangan kepribadain berjalan normal sepanjang masa kanak-kanak dan remaja,
di dalamnya tersirat potensi laten dalam bentuk sikap, tanggung jawab,
penghayatan nilai- nilai, penghargaan diri dan lingkungan, serta karakteristik
lainnya menuju pembentukan kepribadian dewasa. Semua itu unsur-unsur penting
yang mendasari realisasi diri.
· Intelegensi
Kemampuan pengaturan diri sesungguhnya muncul tergantung pada
kualitas dasar lainnya yang penting peranannya dalam pemyesuaian diri, yaitu
kualitas intelegensi. Tidak sedikit, baik buruknya penyesuaian diri seseorang
ditentukan oleh kapasitas intelektualnya atau intelegensinya. Intelegensi
sangat penting bagi perolehan gagasan, prinsip, dan tujuan yang memainkan
peranan penting dalam proses penyesuain diri. Misalnya kualitas pemikiran seseorang
dapat memungkinkan orang tersebut melakukan pemilihan dan mengambil keputusan penyesuain
diri secara intelegensi dan akurat.
3.
Edukasi atau Pendidikan
Termasuk unsur-unsur
penting dalam education atau pendidikan yang dapat mempengaruhi penyesuaian
diri individu antara lain :
a. Belajar
Kemauan belajar
merupakan unsur tepenting dalam penyesuaian diri individu karena pada umumnya
respon-respon dan sifat-sifat kepribadian yang diperlukan bagi penyesuaian diri
diperoleh dan menyerap kedalam diri individu melalui proses belajar. Oleh
karena itu kemauan untuk belajar dan sangat penting karena proses belajar akan
terjadi dan berlangsung dengan baik dan berkelanjutan manakala individu yang
bersangkutan memiliki kemauan yang kuat untuk belajar. Bersama-sama dengan kematangan,
belajar akan muncul dalam bentuk kapasitas dari dalam atau disposisi terhadap
respon. Oleh sebab itu, perbedaan pola-pola penyesuaian diri sejak dari yang
normal sampai dengan yang malasuai, sebagain besar merupakan hasil perbuatan
yang dipengaruhi oleh belajar dan kematangan.
b. Pengalaman
Ada dua jenis
pengalaman yang memiliki nilai signifikan terhadap proses penyesuaian diri,
yaitu pengalaman yang menyehatkan (salutary experiences) dan pengalaman
traumatic (traumatic experinces).
Pengalaman yang menyehatkan
adalah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh individu dan dirasakan sebagai
suatu yang mengenakan, mengasyikkan, dan bahkan dirasa ingin mengulangnya
kembali. Pengalaman seperti ini akan dijadikan dasar untuk ditansfer oleh
individu ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Adapun pengalaman
trauma adalah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh individu dan dirasakan
sebagai sesuatu yang sangat tidak mengenakan, menyedihkan, atau bahkan sangat
menyakitkan sehingga individu tersebut sangat tidak ingin peristiwa itu
terulang lagi.
c. Latihan
Latihan merupakan
proses belajar yang diorientasikan kepada perolehan keterampilan atau
kebiasaan. Penyesuain diri sebagai suatu proses yang kompleks yang mencakup di dalamnya
proses psikologis dan sosiologis maka memerlukan latihan yang sungguh-sungguh
agar mencapai hasil penyesuaian diri yang baik. Tidak jarang seseorang yang
sebelumnya memiliki kemampuan penyesuaian diri yang kurang baik dan kaku,
tetapi melakukan latihan secara sungguh-sungguh, akhirnya lambat laun menjadi bagus
dalam setiap penyesuaian diri dengan lingkungan baru.
d. Determinasi diri
Berkaitan erat dengan
penyesuaian diri adalah sesungguhnya individu itu sendiri untuk melakukan
proses penyesuaian diri.
4.
Lingkungan
a. Lingkungan
Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terdekat
sehingga merupakan lingkungan utama yang sangat penting. Dinamika di dalam
keluarga sangat mempengaruhi penyesuaian diri individu. Ada sejumlah
karakteristik dalam interaksi orang tau dengan anak:
·
Penerimaan (Acceptance)
·
Identifikasi
·
Idealisasi
·
Identifikasi negative
·
Identifikasi menyilang
·
Tindakan hukuman dan disiplin yg terlalu
keras
·
Kecemburuan dan kebencian
·
Pemanjaan dan perlindungan yang
berlebihan
·
Penolakan (rejection)
b. Lingkungan
sekolah
Interaksi edukatif antara siswa dengan
guru dan dengan temannya sangat mempengaruhi terhadap proses perkembangan diri.
Lingkungan ini mempengaruhi perkembangan intelektual, sosial, norma-norma,
sikap dan moral siswa.
c. Lingkungan
masyarakat
Konsistensi nilai-nilai dalam masyarakat
berpengaruh juga pada perkembangan individu setelah siswa melihat mengidentifikasi
keadaan masyarakat.
5.
Agama dan Budaya
Agama dan budaya memberikan sumbangan
nilai-nilai, keyakinan, praktik-praktik bermakna untuk kehidupan individu yang
bersifat mengatur dan turun-temurun. Agama berkaitan erat dengan faktor budaya
yang secara konsisten dan kontinu mengingatkan manusia pada faktor intrinsik
dan kemuliaan manusia yang diciptakan Tuhan. Budaya cenderung bersifat waris
yang artinya cenderung diikuti oleh individu secara turun-temurun dan
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai yang ada dalam agama dan
budaya akan diinternalisasikan dalam kehidupan remaja sehingga akan berpengaruh
dalam perilaku yang ditentukan oleh remaja dalam proses penyesuaian diri
remaja.
F. Dinamika Penyesuaian
Diri Remaja
Dinamika penyesuaian ini dipengaruhi
oleh sejumlah faktor psikologis dasar yang bisa diekspresikan dalam bentuk
senang, enjoy, tegang, konflik, frustasi, dan lain-lain. Faktor psikologis
dasar yang berpengaruh kuat terhadap dinamika penyesuaian diri yaitu:
1. Kebutuhan
(Need)
Diartikan sebagai sebuah respon yang
diarahkan untuk memenuhi kebutuhan yang harus diatasi oleh individu. Kebutuhan
yang dimaksud merupakan kebutuhan yang bersifat internal. Dari faktor ini,
penyesuaian diri ditafsirkan sebagai suatu jenis respon yang diarahkan untuk memenuhi
tuntutan yang harus diatasi oleh individu.
Tuntutan-tuntutan untuk mengatasinya dalam sebuah prosesnya didorong
secara dinamis oleh kebutuhan-kebutuhan internal yang disebut dengan need
tersebut.
2. Motivasi
(Motivation)
Penafsiran terhadap
karakter dan tujuan respon individu dan
hubungannya dengan penyesuaian tergantung konsep-konsep yang menerangkan
hakekat motivasi, seperti melalui teori stimulus-respon, teori fisiologis,
teori intrinsik, teori motivasi tidak sadar, dan teori hedonistik.
a)
Teori stimulus-respon
Motivasi dianggap sebagai hal yang tak
berarti karena setiap perilaku dianggap sebagai respon dari sebuah kondisi
sebelumnya.
b)
Teori Fisiologi
Menganggap bahwa penyesuaian diri tidak
hanya karena adanya stimulus, tapi ada pengaruh dari faktor di luar unsur
fisiologis.
c)
Teori intrinsik
Pandangan Hornic yang menganggap bahwa
semua perilaku manusia untuk memenuhi insting. Pandangan Psikoanalisis membagi
dua insting yaitu instring kehidupan dan insting kematian.
d)
Teori motivasi tak sadar
Beranggapan bahwa motivasi itu sering
datang tanpa disadari (ajastif) dan tanpa diketahui (malasuai).
e)
Teori Hedonistik
Beranggapan bahwa perilaku yang
diarahkan adalah untuk memenuhi kesenangan individu. Jika hal ini terganggu
maka akan mengganggu proses perkembangan individu.
3. Persepsi
( Perception)
Dipahami sebagai pencerminan yang
sempurna tentang realitas. Namun persepsi sebenarnya tidak sama persis dengan
realitas, tapi merupakan gambaran yang perwujudannya sudah diwarnai oleh interpretasi
dunia. Setiap
individu dalam menjalani hidupnya selalu mengalami apa yang disebut persepsi sebagai hasil penghayatannya terhadap
berbagai jenis perangsang (stimulus)
yang berasal dari lingkungan. Tidak jarang persepsi dipahami sebagai suatu
pencerminan yang sempurna tentang realitas. Padahal, sebenarnya tidaklah
demikian. Davidoff (1981) mengemukakan 3 (tiga) alasan yang mendukung bahwa
persepsi itu bukanlah cermin dari realitas, yang pertama, indra yang dimiliki
manusia tidak dapat memberikan respon terhadap semua aspek yang berada di
lingkungan. Kedua, manusia sering kali melakukan persepsi terhadap stimulus
yang pada kenyataannya tidak ada. Ketiga, persepsi manusia tergantung pada apa
yang diharapkan, pengalaman yang dialaminya, dan motivasi yang ada pada
dirinya.
Atkinson dan Hilgard (1983) mengatakan bahwa persepesi merupakan proses
menginterpretasikan dan mengorganisasikan pola-pola stimulus yang berasal dari
lingkungan. Persepsi remaja memiliki pengaruh yang berarti terhadap dinamika
penyesuaian diri karena persepsi memiliki peranan penting dalam perilaku,
yaitu:
a. Sebagai
bagian pembentukan pengembangan sikap terhadap suatu objek atau peristiwa yang berarti akan berpengaruh
terhadap perilaku penyesuaian diri yang lebih terarah.
b. Sebagai
pengembangan fungsi kognitif, afektif, dan konatif sehingga berpengaruh terhadap penyesuaian yang lebih utuh
dan proporsional sesuai dengan
pertimbangan dan pengalaman-pengalaman yang relevan.
c. Meningkatkan
keaktifan, kedinamisan, dan kesadaran
terhadap lingkungan sehingga dapat menggerakan motivasi untuk penyesuaian diri
secara lebih sadar.
d. Meningkatkan
pengamatan dan penilaian secara objektif terhadap lingkungan sehingga perilaku
penyesuaian diri lebih rasional dan realistis.
e. Mengembangkan
kemampuan pengelolaan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari secara
berkelanjutan sehingga dapat mendorong ke arah proses sosialisasi yang semakin
mantap.
4. Kemampuan
(Capacity)
Kognitif, afektif dan psikomotor dapat
membangun suatu dialektis yang dinamis dalam proses penyesuaian diri. Jika
ketiganya harmonis maka akan tercipta keharmonisan. Dan jika tidak, maka akan
menimbulkan konflik.
5. Kepribadian
(personality)
Hal ini mempengaruhi proses berfikir
remaja secara operasional formal, sudah menyadari pentingnya norma-norma, mampu
memilih terhadap sesuatu yang diyakininya. Remaja yang sedang
menghadapi perkembangan yang pesat dari segala aspeknya, kepribadiannya pun
menjadi sangat dinamis. Kedinamisan kepribadian remaja itu akan sangat mewarnai
dinamika penyesuaian dirinya.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat
dilihat bahwa penyesuaian diri remaja bersifat multifaktor, artinya dipengaruhi
oleh banyak faktor. Tuntutan dari lingkungan, terutama teman sebaya menuntut
remaja untuk mampu menyesuaikan diri. Persepsi remaja sangat mempengaruhi cara
pandangnya terhadap sesuatu dan caranya dalam menyesuaikan diri. Kemampuan
untuk menyesuaikan diri akan terus berkembang seiring dengan perkembangan
remaja. Kepribadian dan motivasi ikut terlibat dalam mempengaruhi penyesuaian
diri remaja.
G. Permasalahan –
Permasalahan Penyesuaian Diri Remaja
Di antara persoalan terpenting yang
dihadapi remaja dalam kehidupannya sehari-hari dan yang menghambat penyesuaian
diri yang sehat adalah hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orang tua.
Tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat tergantung pada sikap
orang tua dan suasana psikologi dan sosial dalam keluarga, contohnya : sikap
orang tua yang menolak. Penolakan orang tua terhadap anaknya dapat dibagi
menjadi dua macam. Pertama, penolakan mungkin merupakan penolakan tetap sejak
awal, di mana orang tua merasa tidak sayang kepada anaknya, karena berbagai
sebab, mereka tidak menghendaki kelahirannya. Yang kedua yaitu penolakan dalam
bentuk berpura-pura tidak mengetahui keinginana anak.
Di samping itu, sikap orang tua yang
memberikan perlindungan berlebihan kepada anaknya juga berakibat tidak baik.
Mereka akan sukar dalam penyesuaian diri dengan lingkungan di luar rumah.
Sikap orang tua yang otoriter akan
menghambat penyesuaian diri remaja. Biasanya remaja berusaha untuk menentang kekuasaan
orang rua dan pada gilirannya ia akan cenderung otoriter kepada teman-temannya
atau cenderung menolak otoriter yang ada di sekolah maupun di masyarakat.
Permasalahan-permasalahan penyesuaian
diri yang dihadapi remaja dapat berasal dari suasana psikologis keluarga
seperti keretakan keluarga. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa remaja
yang hidup di dalam rumh tangga yang retak akan mengalami masalah emosi. Selain itu, perbedaan kelakuan antara anak
laki-laki dan perempuan akan mempengaruhi hubungan antar mereka , sehingga
memungkinkan timbulnya rasa iri hati.
Permasalahan
penyesuaian diri juga akan muncul bagi remaja yang keluarganya sering pindah.
Ia terpaksa pindah dari sekolah satu ke sekolah yang lain. Sehingga ia akan
mengalami kesukaran akademis, bahkan mungkin ia akan tertinggal dalam pelajaran
karena penyesuaian terhadap guru yang berbeda-beda dalam mengajarnya. Di
samping itu, ia juga harus menyesuaiakan diri dengan teman-teman barunya. Ia
dituntut untuk dapat menyesuaiakan diri dengan keadaan yang baru.
Bagi remaja yang baru mulai memasuki
sekolah lanjutan pertama maupun sekolah lanjutan atas, mereka akan menghadapi
permasalahan penyesuaian dengan guru-guru, teman, dan pelajaran serta dalam
membagi waktu belajar. Selain itu
persoalan yang sering di hadapi remaja yaitu dalam meilih jenis sekolah yang
sesuai dengan kemampuan dan kemauannya.
H. Implikasi Proses
Penyesuaian Diri Remaja bagi Pendidikan
Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang
besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Sekolah selain mengemban fungsi
pengajaran juga fungsi-fungsi pendidikan (transformasi
norma). Dalam kaitannya dengan pendidikan ini,
peranan sekolah pada hakikatnya tidak jauh dari peranan keluarga, yaitu sebagin
rujukan dan tempat perlindungan jika anak didik mengalami masalah.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk
memperlancar proeses penyesuaian diri remaja khususnya di sekolah adalah:
1. Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa “ betah”
(at home) bagi anak-anak didik, baik
secara sosial, fisik, maupun akademis.
2. Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak.
3. Usaha memahami anak didik secara menyeluruh, baik prestasi
belajar, sosial , maupun seluruh aspek pribadinya.
4. Menggunakan metode dan alat mengajar yang menimbulkan
gairah belajar.
5. Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar
motivasi belajar.
6. Ruang kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
7. Peraturan / tata tertib yang jelas dan dapat dipahami oleh
siswa.
8. Teladan dari para guru dalam segi pendidikan.
9. Kerja sama dan saling pengertian dari para guru dalam
melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
10.Pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.
11. Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan
tanggungjawab baik pada murid maupun pada guru.
12.Hubungan yang baik dan penuh pengertian antara sekolah
dengan orang tua siswa dan masyarakat.
Karena di sekolah guru merupakan figur
pendidik yang penting dan besar pengaruhnya terhadap penyesuaian siswa-siswinya, maka
dituntut sifat –sifat guru yang efektif, yakni sebagi berikut (Ryans dalam
Garrison, 1956).
1. Memberi kesempatan (alert), tampak antusias dan berminat
dalam aktivitas siswa di dalam kelas .
2. Ramah (cheerful) dan optimistis.
3. Mampu mengontrol diri,
tidak mudah kacau ( terganggu ), dan teratur tindakannya.
4. Senang kelakar, mempunyai rasa humor.
5. Mengetahui dan mengakui kesalahan-kesalahan sendiri.
6. Jujur dan objektif dalam memperlakukan siswa.
7. Menunjukan pengertian dan rasa simpati dalam bekerja
dengan sisiwa-siswinya.
Jika para guru bersama dengan seluruh staf
di sekolah dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka anak-anak didik di
sekolah itu yang berada dalam usia remaja akan
cenderung berkurang kemungkinannya untuk mengalami permasalahan-permasalahan
penyesuaaian diri atau terlibat dalam
masalah yang bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.
BAB
III
PENUTUP
A. Simpulan
1. Penyesuaian
diri dikenal dengan istilah adjusment atau personal adjusment. Menurut Schneiders(1984)
penyesuaian diri dapat ditinjaudari 3 sudut pandang yaitu:
a)
Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
b)
Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
c)
Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery)
2.
Seseorang
dikatakan mampu menyesuaikan diri dengan baik jika mampu melakukan
respons-respons yang matang,efisien), memuaskan, dan sehat.
3.
Permasalahan-permasalahan
penyesuaian diri remaja terutama disebabkan oleh hubunganya dengan orang tua,
suasana dan keadaan psikologis keluarga, hubungannya dengan teman sebaya,
masyarakat, guru, dan penyesuaian dengan sekolah dan cara belajar.
4.
Implikasi proses
penyesuaian diri remaja bagi pendidikan yaitu lingkungan sekolah
mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Sekolah selain
mengemban fungsi pengajaran juga fungsi-fungsi pendidikan (transformasi norma). Jika para
guru bersama dengan seluruh staf disekolah dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik, maka anak-anak didik di sekolah itu yang berada dalam usia remaja akan cenderung berkurang kemugkinannya
untuk menglami permasalahan-permasalahan penyesuaaian diri atau terlibat dalam masalah yang bisa
menyebabkan perilaku yang menyimpang. Selain itu, peranan orang tua juga sangat
besar dalam mengtasi masalah penyesuaian diri remaja.
B. Saran
Permasalahan
penyesuian diri pada remaja terutama disebabkan oleh hubungan remaja dengan
orang tua. Orang tua diharapkan mampu memacu anak untuk berkembang dan
menciptakan suasana yang menyenangkan bagi remaja sehingga remaja dapat
menyesuaiakan diri dengan lingkungannya dengan mudah.
Komentar
Posting Komentar